Adhy Talu


Minggu, 12 April 2015

Makalah "Pengaruh kenakalan Remaja Terhadap Prestasi Belajar Siswa"


Bab I
Pendahuluan

A.    Latar Belakang
Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun ia masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering dilakukan melalui metode coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan. Kesalahan yang dilakukannya sering menimbulkan kekuatiran serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi lingkungannya, orangtuanya. Kesalahan yang diperbuat para remaja hanya akan menyenangkan teman sebayanya. Hal ini karena mereka semua memang sama-sama masih dalam masa mencari identitas. Kesalahan-kesalahan yang menimbulkan kekesalan lingkungan inilah yang sering disebut sebagai kenakalan remaja.
Remaja merupakan pemimpin masa depan suatu bangsa. Di samping hal-hal yang menggembirakan dengan kegiatan remaja-remaja yang memperlihatkan prestasinya namun tak kala pentingnya dalam surut kabar sering kali kita membaca berita tentang ada perkelahian atara pelajar, penyebaran narkotika, pemakaian obat terlarang dan bahkan kasus kehamilan di kalangan remaja sendiri.
Hal tersebut adalah suatu masalah yang sering terlihat tengah masyarakat saat ini, Oleh karena itu masalah kenakalan remaja itu sendiri perlu mendapatkan perhatian yang serius dan terfokus untuk mengarahkan remaja ke arah yang lebih positif, yang titik beratnya untuk terciptanya suatu sistem dalam menanggulangi kenakalan di kalangan remaja.

B.     Rumusan masalah
1.      Apa itu definisi remaja?
2.      Apa itu bentuk kenakalan remaja?
3.      Apa defenisi prestasi?
4.      Faktor-faktor apa saja yang mendukung Prestasi Belajar Siswa?
5.      Apa saja faktor-faktor penyebab kenakalan remaja?
6.   Bagaimana upaya mengatasi kenakalan remaja ?



C.    Tujuan makalah
1.      Untuk mengetahui defnisi remaja  dan ciri-cirinya.
2.      Memahami bentuk-bentuk kenakalan remaja itu sendiri.
3.      Untuk mengetahui pengertian prestasi belajar anak.
4.      Untuk mengetahui faktor-faktor yang mendukung prestasi belajar bagi anak.
5.      Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab kenakaln remaja.


D.    Batasan makalah
Berdasarkan rumusan dan tujuan diatas maka kelompok memberikan batasan makalah sebagai berikut:
1.      Pengaruh atau faktor kenakalan remaja terhadap prestasi belajar.
2.      Penanganan terhadap kenakalan remaja.



  


Bab II
Kajian Teori
A.    Pengertian Remaja.
Definisi Remaja
Istilah “Remaja” berasal dari bahasa latin “Adolescere” yang berarti remaja. Mencakup kematangan mental,emosi,social,dan fisik. Pandangan ini diungkapkan oleh Jhon Pieget, :secara psikologi masa remaja adalah usia saat individu berintegrasi  dengan masyarakat dewasa, usia saat anak tidak lagi merasa dibawah tingkat orang yang lebih tua, melainkan berada dalam tingkat yang sama. Presepsi umum tentang remaja merupakan kelompok yang biasanya tidak berada dengan kelompok manusia yang lain, ada yang berpendapat  bahwa remaja adalah kelompok orang-orang yang sering menyusahkan orang tua.
Dalam sejarah perkembangan psikologi pada umum ini diselesaikan dengan sudut penyerotan bidang yang bersangkutan. Sering pula ditemukan adanya istila yang sama tetapi dengan arti yang berbeda. Sebaliknya mungkin juga pemberian istila yang lain terhadap keadaan atau hal yang sama.
Untuk menghindari kesimpang-siuran dan kesalah pahaman dalam penggunaan istilah dan bidang penyerotan dengan tujuan yang sama. Istila asing yang sering dipakai  untuk menjunkkan remaja yaitu puberteit, adolescentia dan Youth. Dalam bahasa indonesia sering pula disebut pubertas atau remaja.

Istilah yang sering di pakai untuk menunjukkan masa remaja antara lain
a)      Puberty (inggris) puberteit (belanda) keduanya berasal dari bahasa latin pubertas. Pubertas berarti kelaki-lakian, kedewasaan yang di landasi oleh sifat dan tanda-tanda kelaki-lakian.
b)       Adolescentia berasal dari bahasa latin adulescentia.  Artinta masa muda antara 17-30 tahun.
Puberteit adalah anatar 12-16. Pengertian pubertas meliputi perubahan-perubahan fisik dan psikis, seperti halnya pelepasan diri dari ikatan emosional dengan orang tua dan pembentukan rencana hidup dan sistem nilai sendiri.
Perubahan pada masa ini menjadi objek penyerotan orang tua terutama perubahan lingkungan dekat, yaitu dalam hubungan dalam kelurga.
Adolencetia adalah masa sesudah puberta, yaitu masa antara 17-22 tahun. Pada masa ini lebih diutamakan perubahan dalam hubungan dangan lingkungan hidup yang lebih luas, yaitu masyarakat di mana ia hidup.[1]

CIRI-CIRI REMAJA
Seorang remaja berada pada batas peralihan kehidupan anak dan dewasa. Tubuhnya sudah “dewasa”, akan tetapi bila diperlakukan seperti orang dewasa”, akan tetapi bilah diperlakuakan  seperti orang dewasa ia gagal menunjukan kedewasaannya. Pengalamannya mengenai alam dewasa masih belum  banyak kareana itu sering terlihat  pada mereka adanya:
1.      Kegelisaan 
Keadaan tidak tenang menguasai diri si remaja. mereka mempunyai banyak macam keinginan yang tidak selalu dapat dipenuhi. Disitu pihak selalu ingin mencari pengalaman, karena diperlukan untuk menambah pengetahuan dan keluwesan dalam tingkahlaku.
2.      Pertentangan :
Pertentangan-pertentangan yang terjadi di dalam diri mereka juga menimbulkan kebingungan baik bagi diri mereka sendiri maupun orang lain. pada umumnya tibul perselisihan dan pertentangan pendapat dan pandangan antara si remaja dan orangtua. Selanjutnya pertentangan ini menyebabkan timbulnya keinginan yang hebat untuk melepaskan diri dari orangtua.Akan tetapi keinginan untuk melepaskan diri ini ditentang lagi oleh keinginan memperoleh rasa aman di rumah. Mereka tidak brani mengambil resiko dari tindakan meningalkan lingkunagn yang aman diantara keluargannya.
3.      Berkeninginan besar mencoba segala hal yang belum diketahuinya.
Mereka ingin mengetahui macam-macam hal  melalui usaha-usaha yang dilakukan dalam berbagai bidang. Mereka ingin mencoba apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Remaja pria mencoba merokok secara tersembunyi, seolah-olah ingin membuktikan apa yang dilakukan orang dewasa dapat pula dilakukan oleh si remaja. Remaja putri mulai bersolek menurut mode dan kosmetik terbaru. Walaupun sekolah-sekolah mengeluarkan larangan penggunaan kosmetik atau make up dilingkungan sekolah. Keinginan mencoba pada remaja ini dapat berakibat negative apabila mereka di ajak mencoba mengisap ganja, menyuntik morphin. Malapetaka akan dialaminya sebagai akibat penyaluran yang tidak ada manfaatnya.
4.      Keinginan mencoba seringpula diarahkan pada diri sendiri maupun terhadap orang lain. Keinginan mencoba ini tidak hanya dalam bidang penggunaan obat-obatan akan tetapi meliputi juga segala hal yang berhubungan dengan fungsi-fungsi kebutuhannya.
5.      Keinginan menjelajah kea lam sekitar pada remaja lebih luas. Bukan hanya lingkungan dekatnya saja yang ingin diselidiki, bahkan lingkungan yang lebih luas lagi. Keinginan menjelajah dan menyelidki, ini dapat disalurkan dengan baik ke penyelidikan yang bermanfaat.
6.      Mengkhayal dan berfantasi
Keinginan menjelajah lingkungan tidak selalu mudah disalurkan. Pada umumnya keinginan menjelajah mengalami pembatasan khususnya dari segi keuangan. Seorang remaja yang ingin menjelajahi lingkungan alam sekitarnya, memerlukan biaya yang tidak sedikit. Banyak faktor yang menghalangi penyaluran keinginan bereksplorasi dan bereksperimen pada remaja terhadap lingkungan. Khayalan dan fantasi pada remaja putera banyak berkisar mengenai prestasi dan tenaga karier. Pada remaja puteri terlihat lebih banyak sifat perasa sehingga lebih banyak berintikan romantika hidup.
7.      Aktifitas berkelompok : Antara keinginan yang satu dengan keingian yang lain yang sering timbul tantangan, baik dari keinginan untuk berdiri sendiri tetapi kenyataannya belum mampuh hidup terlepas dari keluarga, maupun dari keinginan menjelajah alam, menggali misteri yang ada dalam lingkungan alam tetapi terbatasnya biaya, materi serta kesanggupan remaja. Keadaan ini menyebabkan para remaja merasa diri tidak berdaya dalam suasana dan situasi yang justru dikuasai segala kenginan untuk bertindak, berbuat dan bereksplorasi.[2]





B.     Kenakalan dan Prestasi.
Definisi Kenakalan
Menurut  kamus besar   bahasa Indonesia, kenakalan dengan kata dasar nakal adalah suka berbuat tidak baik, suka mengganggu, dan suka tidak menurut. Sedangkan kenakalan adalah perbuatan nakal, perbuatan tidak baik dan bersifat mengganggu  ketenangan orang lain; tingkah laku yang melanggar norma kehidupan masyarakat.
Istilah kenakaln remaja (Juvenile delinguency atau deliquency) kerap disamakan dengan kenakalan anak-anak, sehingga istilah kenakalan mempunyai arti yang khusus. Misalnya, bagi orang tua, remaja yang sering berkumpul mengobrol dan tertawa keras-keras  sudah dianggap kenakalan mereka akhirnya kekurangan waktu untuk belajar dan menyebabkan banyak angka merah nilai raport akhir semester.
Kenakalan remaja dapat di golongkan menjadi dua kelompok besar yang berkaitan dengan norma hukum yaitu sebagai berikut :
1.      Kenakalan yang bersifat amoral dan asosial dan tidak diatur dalam undang-undang sehingga tidak dapat sulit digolongkan pelanggaran hukum.
2.      Kenakalan yang bersifat melanggar hukum dengan penyelesaian dengan undang-undang dan hukum yang berlaku sama dengan perbuatan melanggar hukum apabila dilakukan oleh orang dewasa.[3]

Singgih D. Gunarsa memberikan beberapa ciri pokok dari kenakalan remaja, antara lain:

1.      Dalam pengertian kenakalan harus terlihat adanya perbuatan atau tingkah laku yang bersifat pelanggaran hukum yang berlaku dan pelanggaran nilai-nilia moral.
2.      Kenakalan tersebut mempunyai tujuan yang asusila, yakni atau perbuatan tingkah laku tersebut bertentangan dengan nilai atau norma sosial yang ada di lingkungan hidupnya.
3.      Kenakalan remaja dapat dilakukan oleh seorang remaja saja, atau dapat juga dilakukan bersama-sama dalam suatu kelompok remaja.

Dari beberapa pembahasan tentang kenakalan remaja yang dikemukakan diatas maka diambil pengertian bahwa kenakalan remaja yang dimaksud dalam makalah  ini adalah suatu tindakan atau perbuatan yang menyimpang dan melawan tata tertib atau peraturan yang ada, baik disekolah maupun di keluarga. Dalam hal ini remaja dapat mengganggu ketentraman sekolah, masyarakat, bangsa dan negara dan tidak menutup kemungkinan membahayakan diri sendiri dan juga tanggung jawab mereka di masa depan sebagai tulang punggung negara dan penerus pembangunan nasional.

Dalam Hal ini kelompok membagi kenakalan remaja menjadi 4 jenis yaitu:
1)      Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain: perkelahian, pemerkosaan, perampokan, pembunuhan dan lain-lain.
2)      Kenakalan yang menimbulkan korban materi: perusakan, pencurian, pencopetan, pemerasan dan lain-lain.
3)       Kenakalan sosial yang menimbulkan korban di pihak lain: pelacuran, penyalahgunaan obat.
4)      Kenakalan yang melawan status anak sebagai pelajar dengan cara membolos, mengingkari status orang tua dengan cara pergi dari rumah atau membantah perintah orang tua dan sebagainya. Pada usia remaja perilaku-perilaku mereka memang belum melanggar hukum dalam arti yang sesungguhnya karena yang dilanggar adalah statusstatus dalam lingkungan primer (keluarga) dan sekunder (sekolah) yang memang belum diatur oleh hukum secara rinci.

Defenisi Prestasi
Menurut Poerwadaminta dinyatakan bahwa "Prestasi adalah hasil yang dicapai. Prestasi
merupakan sesuatu yang sudah didapat atau sesuatu yang sudah dikuasai". Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa prestasi belajar sering dinyatakan dalam bentuk angka yang menunjukkan tingkat pemahaman seseorang mengenai bahan pelajaran yang telah dipelajari.
Seperti yang dikemukakan oleh Nasution menyatakan bahwa "Prestasi belajar adalah suatu
bukti keberhasilan atau kemampuan seorang siswa dalam melalakukan kegiatan belajarnya
sesuai bobot yang dicapai.
Dalam memperoleh hasil belajar yang baik minat juga sangat menentukan seorang siswa berhasil atau tidak dalam belajarnya. Menurut Poerbakawatja menyatakan, "Minat adalah kesediaan jiwa yang sifatnya aktif untuk menerima sesuatu dari luar belajar. Tiap – tiap pelajaran harus dapat menarik minat dari murid - murid. Minat merupakan kaedah pokok dalam didaktif.
Memilih dan menggunakan metode yang dapat merupakan kewajiban bagi seorang guru untuk mengetahui bagaimana cara menyusun strategi belajar mengajar yang baik sesuai dengan materi belajar yang akan dibahasnya. Ahmadai mengatakan "Masalah mengenai bagaimana cara yang paling baik  menyajikan materi pelajaran agar dapat diterima dengan mudah dan baik oleh siswamerupakan ruang lingkup metodologi mengajar.
Seperti yang di kemukakan oleh Nasution menyatakan bahwa " Prestasi belajar adalah suatu
bukti keberhasilan atau kemampuan seorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai bobot yang dicapai.
Dalam memperoleh hasil belajar yang baik minat juga sangat menentukan seorang siswa
berhasil belajar atau tidak dalam belajarnya. Menurut Poerbakawatja, menyatakan, " Minat
adalah kesediaan jiwa yang sifatnya aktif untuk menerima sesuatu dari luar belajar. Tiap-tiap
pelajaran harus dapat menarik minat dari murid- murid. Minat merupakan kaedah pokok dalam didaktif.
Memilih dan menggunakan metode yang tepat merupakan kewajiban bagi seorang guru untuk
mengetahui bagaiman cara menyusun startegi belajar mengajar yang baik sesuai dengan materi belajar yang akan dibahasnya. Ahmadi mengatakan, "Masalah mengenai bagaimana cara yang paling baik menyajikan materi pelajaran agar dapat diterima dengan mudah dan baik oleh siswa merupakan ruang lingkup metodologi mengajar.[4]

Faktor-faktor Pendukung Prestasi Belajar Siswa
Faktor-faktor yang mendukung prestasi belajar siswa yaitu  oleh dua faktor utama yaitu yang pertama; faktor dari dalam diri siswa itu sendiri dan yang kedua; faktor yang datang dari luar diri siswa itu sendiri atau faktor lingkungan.
Ø  Faktor Intern, meliputi:
1)      Faktor Biologis ( yang bersifat jasmani)

Ø  faktor Kesehatan
Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu juga ia akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk jika badannya lelah, kurang darah ataupun ada gangguan-gangguan atau kelainan-kelainan fungsi alat indranya serta tubuhnya.

2)      Faktor Psikologis (yang bersifat rohani)
Sekurang-kurangnya ada tujuh faktor psikologis yang mempengaruhi belajar siswa. Faktor-faktor itu adalah: intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kelelahan.

A.    Faktor Eksternal
Selain faktor internal yang diakibatkan dari dalam diri siswa, ada pula faktor eksternal atau faktor yang diakibatkan dari luar diri siswa, yang dapat mempengaruhi prastasi belajar siswa antara lain:
1.      Faktor lingkungan keluarga.
Keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama bagi siswa. Keluarga adalah termasuk di dalam salah satu faktor yang mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan siswa. Dari lingkungan keluarga inilah yang pertama kali anak dikenalkan dan menerima pendidikan dan pengajaran terutama dari ayah dan ibunya. Pengaruh keluarga bagi siswa adalah berupa: cara orang tua mendidik anak, hubungan antara keluarga, pengertian orang tua, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga dan latar belakang kebudayaan.
2.      Faktor lingkungan sekolah
Faktor lingkungan sekolah mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam belajar karena hampir sepertiga dari kehidupan siswa sehari-hari berada disekolah. Faktor lingkungan sekolah yang dapat menunjang keberhasilan siswa, antara lain; cara penyampaian pelajaran, faktor antara guru dengan siswa, faktor asal sekolah, faktor kondisi gedung, kelas harus memenuhi syarat belajar, dan kedisiplinan yang diterapkan oleh sekolah yang bersangkutan.

3.      Faktor lingkungan masyarakat
Faktor lingkungan masyarakat disebut juga sebagai faktor lingkungan sekitar siswa dimana ia tinggal, Faktor lingkungan masyarakat ini juga memberikan pengaruh terhadap keberhasilan siswa.
  


A.    Faktor-faktor penyebab kenakalan remaja
Perilaku ‘nakal’ remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).
Faktor internal:
  1. Krisis identitas: Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
  2. Kontrol diri yang lemah: Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
Faktor eksternal:
  1. Keluarga dan Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
  2. Teman sebaya yang kurang baik
  3. Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.[5]


B.     Upaya penanganan terhadap Kenakalan Remaja
Pada Hakekatnya, orang tua mempunyai harapan agar anak-anak dapat bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi anak yang baik, tahu membedakan apa yang baik dan yang tidak baik, tidak mudah terjerumus dalam perbuatan-perbuatan dapat merugikan dirinya sendiri maupun merugikan orang lain. Harapan-harapan ini kiranya akan lebih mudah terwujud apabila sejak semula, orang tua telah menyadari akan peranan mereka sebagai orangtua yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan moral anak.[6]

Dengan demikian kelompok akan memberikan penjelasan mengenai penaganan terhadap kenakalan remaja, sebagai berikut :
1)      Orang Tua/keluarga
Dalam pembinaan perkembangan dan pertumbuhan remaja, orang tua seharusnya memiliki peran yang aktif dalam memotivasi dan memberikan pengajaran-pengajaran yang baik dan benar terhadap anak. Sehingga pola asuh yang diberikan kepada anak haruslah tepat dalam menjaga pergaulan anak dan mendidik kehidupan anak. Adapun pola asuh yang baik diberikan kepada anak berdasarkan kesepakatan kelompok, yaitu :
Pola Asuh yang demokratis
Pola asuh demokratis ini lebih menitikan kepada kebebasan pribadi anak, tetapi dengan syarat. Artinya bahwa setiap keinginan yang akan dilakukan oleh anak, terlebih dahulu dipertimbangkan oleh orang tua untuk dapat menyetujuinya. Dan dalam hal ini pribadi anak dan orang tua dapat menjalin hubungan yang baik dalam mengambil sebuah keputusan, sehingga tidak ada satu pihak pun yang dirugikan. Jika pola asuh seperti ini yang diterapkan oleh orang tua terhadap anak, maka akan berdampak yang baik terhadap anak. Anak akan menjadi pribadi yang bertanggung jawab, mandiri dan bijaksana di dalam mengambil suatu keputusan. Anak juga dapat menghargai pendapat orang yang lebih dewasa dari dirinya, dan anak akan menjadi seorang pribadi yang taat, patu terhadap aturan-aturan yang diberikan oleh orang tua, gereja, sekolah dan masyarakat.
2)      Sekolah
Sebagai lembaga pendidikan, sekolah juga memiliki peranan aktif dalam menagulangi kenakalan remaja. Terutama guru, guru merupakan orang tua kedua, Guru tidak hanya mengajarkan bagaimana anak dapat memperoleh pengetahuan yang baik. Tetapi juga harus mengajarkan bagaimana cara anak memiliki karakter yang baik. Dalam hal ini guru semestinya guru dapat membina siswa atau remaja bagaimana memiliki karakter yang baik.
3)      Gereja
Gereja sebagai lembaga atau organisasi keagamaan yang dapat membentuk kerohanian remaja untuk lebih baik. Gereja harus berperan aktif dalam membina remaja, karena mereka lah yang akan menjadi penerus-penerus gereja dan masa depan gereja. Namun  ketika remaja tidak dibentuk dan dibina dengan baik melalui gereja, maka akan timbul kecendrungan perbuatan remaja akan melakukan hal-hal yang negatif. Tetapi jika gereja melakukan pembinaan yang baik terhadap pertumbuhan dan perkembangan kerohanian remaja, maka remaja akan menjadi remaja yang bertumbuh dengan baik dan sesuai dengan pengajaran-pengajaran yang terdapat dalam alkitab. Gereja harus bisa membawa remaja kepada Tuhan dan melakukan berbagai persekutuan untuk pertumbuhan iman remaja.





BAB III
PENUTUP
a)      Kesimpulan 
Berdasarkan latarbelakang yang kelompok sudah utarakan bahwa kenakalan remaja yang meliputi perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum dan perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Adapun faktor-faktor yang melatarbelakangi kenakaan rejama yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berupa faktor dari keluargayang kurang harmonis. Sedangkan faktor eksternal berupa pergaulan bebas, pengaruh perkembangan teknologi yang berdampak negatif, Kurangnya perhatian sekolah terhadap pertumbuhan dan perkambangan remaja, dan tidak adanya media penyalur bakat dan hobi bagi remaja.
Untuk menanggulagi kenakalan remaja maka harus mendapat stategi-strategi yang cocok untuk mengisi kegiatan aktifitas mereka misalnya adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya yang membantu dalam mengatasi kenakalan remaja.


b)     Saran.


Ø  Orangtua
Disarankan kepada orang tua untuk dapat menjaga hubungan yang hangat dalam keluarga dengan cara saling menghargai, pengertian, dan penuh kasihsayang serta tidak bertengkar di depan anak. Serta memberi pengarahan tentang cara bergaul. Orang tua harus bisa menjadi teman, agar anak dapat terbuka dan anak dapat menjadikan orang tua sebagai seorang sahabat terpercaya.
Ø  Pihak Sekolah
Pihak sekolah disarankan dapat membantu siswa untuk mengenali potensi-potensi yang dimiliki siswa. Sehingga dapat meningkatkan konsep diri siswa, serta dapat meningkat kembali prestasi yang ada pada peserta didik karena sekolah adalah salah satu yang membantu untuk membina karakter siswa.




[1] Singgih D. Gunarsa dan  Ny. Yulia Singgih D. Gunarsa “Psikologi Remaja”(Jakarta, Gunung Mulia ,2009)Hal.4-5.
[2] Ibib, hal. 67-71
[3] Ibid. Hal. 18-22.
[4] Jurnal .Asnawati MatondangHubungan Kenakalan Remaja dengan Prestasi Belajar Siswa”Volume 1. Hal 37.
[5] Di peroleh dari” http://belajarpsikologi.com/kenakalan-remaja/ tnggal 19/3/15. 
[6] Singgih D. Gunarsa & Yulia Singgih D. Gunarsa, Psikologi Perkembangan Anak & Remaja, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2011, Hal. 60.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar