Bab I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Remaja adalah masa peralihan dari
kanak-kanak ke dewasa. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai
kanak-kanak, namun ia masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia
sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering
dilakukan melalui metode coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan. Kesalahan
yang dilakukannya sering menimbulkan kekuatiran serta perasaan yang tidak
menyenangkan bagi lingkungannya, orangtuanya. Kesalahan yang diperbuat para
remaja hanya akan menyenangkan teman sebayanya. Hal ini karena mereka semua
memang sama-sama masih dalam masa mencari identitas. Kesalahan-kesalahan yang
menimbulkan kekesalan lingkungan inilah yang sering disebut sebagai kenakalan
remaja.
Remaja merupakan pemimpin masa depan suatu bangsa. Di
samping hal-hal yang menggembirakan dengan kegiatan remaja-remaja yang
memperlihatkan prestasinya namun tak kala pentingnya dalam surut kabar sering
kali kita membaca berita tentang ada perkelahian atara pelajar, penyebaran
narkotika, pemakaian obat terlarang dan bahkan kasus kehamilan di kalangan
remaja sendiri.
Hal tersebut adalah suatu masalah
yang sering terlihat tengah masyarakat saat ini, Oleh karena itu masalah
kenakalan remaja itu sendiri perlu mendapatkan perhatian yang serius dan
terfokus untuk mengarahkan remaja ke arah yang lebih positif, yang titik
beratnya untuk terciptanya suatu sistem dalam menanggulangi kenakalan di
kalangan remaja.
B. Rumusan masalah
1. Apa
itu definisi remaja?
2. Apa
itu bentuk kenakalan remaja?
3. Apa
defenisi prestasi?
4. Faktor-faktor
apa saja yang mendukung Prestasi Belajar Siswa?
5. Apa saja faktor-faktor
penyebab kenakalan remaja?
6.
Bagaimana upaya mengatasi kenakalan
remaja ?
C. Tujuan makalah
1. Untuk
mengetahui defnisi remaja dan
ciri-cirinya.
2. Memahami
bentuk-bentuk kenakalan remaja itu sendiri.
3. Untuk
mengetahui pengertian prestasi belajar anak.
4. Untuk
mengetahui faktor-faktor yang mendukung prestasi belajar bagi anak.
5. Untuk
mengetahui faktor-faktor penyebab kenakaln remaja.
D. Batasan makalah
Berdasarkan
rumusan dan tujuan diatas maka kelompok memberikan batasan makalah sebagai
berikut:
1. Pengaruh
atau faktor kenakalan remaja terhadap prestasi belajar.
2. Penanganan
terhadap kenakalan remaja.
Bab II
Kajian Teori
A. Pengertian Remaja.
Definisi Remaja
Istilah “Remaja” berasal dari bahasa
latin “Adolescere” yang berarti remaja. Mencakup kematangan
mental,emosi,social,dan fisik. Pandangan ini diungkapkan oleh Jhon Pieget,
:secara psikologi masa remaja adalah usia saat individu berintegrasi
dengan masyarakat dewasa, usia saat anak tidak lagi merasa dibawah tingkat
orang yang lebih tua, melainkan berada dalam tingkat yang sama. Presepsi umum
tentang remaja merupakan kelompok yang biasanya tidak berada dengan kelompok
manusia yang lain, ada yang berpendapat bahwa remaja adalah kelompok
orang-orang yang sering menyusahkan orang tua.
Dalam sejarah perkembangan psikologi
pada umum ini diselesaikan dengan sudut penyerotan bidang yang bersangkutan.
Sering pula ditemukan adanya istila yang sama tetapi dengan arti yang berbeda.
Sebaliknya mungkin juga pemberian istila yang lain terhadap keadaan atau hal
yang sama.
Untuk menghindari kesimpang-siuran
dan kesalah pahaman dalam penggunaan istilah dan bidang penyerotan dengan
tujuan yang sama. Istila asing yang sering dipakai untuk menjunkkan remaja yaitu puberteit, adolescentia dan Youth. Dalam
bahasa indonesia sering pula disebut pubertas atau remaja.
Istilah yang sering di
pakai untuk menunjukkan masa remaja antara lain
a) Puberty
(inggris) puberteit (belanda) keduanya berasal dari bahasa latin pubertas. Pubertas berarti
kelaki-lakian, kedewasaan yang di landasi oleh sifat dan tanda-tanda
kelaki-lakian.
b)
Adolescentia
berasal dari bahasa latin adulescentia.
Artinta masa muda antara 17-30
tahun.
Puberteit
adalah anatar 12-16. Pengertian pubertas meliputi perubahan-perubahan fisik dan
psikis, seperti halnya pelepasan diri dari ikatan emosional dengan orang tua
dan pembentukan rencana hidup dan sistem nilai sendiri.
Perubahan
pada masa ini menjadi objek penyerotan orang tua terutama perubahan lingkungan
dekat, yaitu dalam hubungan dalam kelurga.
Adolencetia
adalah masa sesudah puberta, yaitu masa antara 17-22 tahun. Pada masa ini lebih
diutamakan perubahan dalam hubungan dangan lingkungan hidup yang lebih luas,
yaitu masyarakat di mana ia hidup.[1]
CIRI-CIRI REMAJA
Seorang
remaja berada pada batas peralihan kehidupan anak dan dewasa. Tubuhnya sudah
“dewasa”, akan tetapi bila diperlakukan seperti orang dewasa”, akan tetapi
bilah diperlakuakan seperti orang dewasa
ia gagal menunjukan kedewasaannya. Pengalamannya mengenai alam dewasa masih
belum banyak kareana itu sering terlihat pada mereka adanya:
1.
Kegelisaan
Keadaan
tidak tenang menguasai diri si remaja. mereka mempunyai banyak macam keinginan
yang tidak selalu dapat dipenuhi. Disitu pihak selalu ingin mencari pengalaman,
karena diperlukan untuk menambah pengetahuan dan keluwesan dalam tingkahlaku.
2.
Pertentangan :
Pertentangan-pertentangan
yang terjadi di dalam diri mereka juga menimbulkan kebingungan baik bagi diri
mereka sendiri maupun orang lain. pada umumnya tibul perselisihan dan
pertentangan pendapat dan pandangan antara si remaja dan orangtua. Selanjutnya
pertentangan ini menyebabkan timbulnya keinginan yang hebat untuk melepaskan
diri dari orangtua.Akan tetapi keinginan untuk melepaskan diri ini ditentang
lagi oleh keinginan memperoleh rasa aman di rumah. Mereka tidak brani mengambil
resiko dari tindakan meningalkan lingkunagn yang aman diantara keluargannya.
3.
Berkeninginan besar mencoba segala hal
yang belum diketahuinya.
Mereka
ingin mengetahui macam-macam hal melalui
usaha-usaha yang dilakukan dalam berbagai bidang. Mereka ingin mencoba apa yang
dilakukan oleh orang dewasa. Remaja pria mencoba merokok secara tersembunyi,
seolah-olah ingin membuktikan apa yang dilakukan orang dewasa dapat pula
dilakukan oleh si remaja. Remaja putri mulai bersolek menurut mode dan kosmetik
terbaru. Walaupun sekolah-sekolah mengeluarkan larangan penggunaan kosmetik
atau make up dilingkungan sekolah. Keinginan mencoba pada remaja ini dapat
berakibat negative apabila mereka di ajak mencoba mengisap ganja, menyuntik
morphin. Malapetaka akan dialaminya sebagai akibat penyaluran yang tidak ada
manfaatnya.
4.
Keinginan mencoba seringpula diarahkan
pada diri sendiri maupun terhadap orang lain. Keinginan mencoba ini tidak hanya
dalam bidang penggunaan obat-obatan akan tetapi meliputi juga segala hal yang
berhubungan dengan fungsi-fungsi kebutuhannya.
5.
Keinginan menjelajah kea lam sekitar
pada remaja lebih luas. Bukan hanya lingkungan dekatnya saja yang ingin
diselidiki, bahkan lingkungan yang lebih luas lagi. Keinginan menjelajah dan
menyelidki, ini dapat disalurkan dengan baik ke penyelidikan yang bermanfaat.
6.
Mengkhayal dan berfantasi
Keinginan
menjelajah lingkungan tidak selalu mudah disalurkan. Pada umumnya keinginan
menjelajah mengalami pembatasan khususnya dari segi keuangan. Seorang remaja
yang ingin menjelajahi lingkungan alam sekitarnya, memerlukan biaya yang tidak
sedikit. Banyak faktor yang menghalangi penyaluran keinginan bereksplorasi dan
bereksperimen pada remaja terhadap lingkungan. Khayalan dan fantasi pada remaja
putera banyak berkisar mengenai prestasi dan tenaga karier. Pada remaja puteri
terlihat lebih banyak sifat perasa sehingga lebih banyak berintikan romantika
hidup.
7.
Aktifitas berkelompok : Antara keinginan
yang satu dengan keingian yang lain yang sering timbul tantangan, baik dari
keinginan untuk berdiri sendiri tetapi kenyataannya belum mampuh hidup terlepas
dari keluarga, maupun dari keinginan menjelajah alam, menggali misteri yang ada
dalam lingkungan alam tetapi terbatasnya biaya, materi serta kesanggupan
remaja. Keadaan ini menyebabkan para remaja merasa diri tidak berdaya dalam
suasana dan situasi yang justru dikuasai segala kenginan untuk bertindak,
berbuat dan bereksplorasi.[2]
B. Kenakalan dan Prestasi.
Definisi Kenakalan
Menurut kamus
besar bahasa Indonesia, kenakalan dengan kata dasar nakal adalah
suka berbuat tidak baik, suka mengganggu, dan suka tidak menurut. Sedangkan
kenakalan adalah perbuatan nakal, perbuatan tidak baik dan bersifat
mengganggu ketenangan orang lain; tingkah laku yang melanggar norma
kehidupan masyarakat.
Istilah
kenakaln remaja (Juvenile delinguency
atau deliquency) kerap disamakan dengan kenakalan anak-anak, sehingga
istilah kenakalan mempunyai arti yang khusus. Misalnya, bagi orang tua, remaja
yang sering berkumpul mengobrol dan tertawa keras-keras sudah dianggap kenakalan mereka akhirnya
kekurangan waktu untuk belajar dan menyebabkan banyak angka merah nilai raport
akhir semester.
Kenakalan
remaja dapat di golongkan menjadi dua kelompok besar yang berkaitan dengan
norma hukum yaitu sebagai berikut :
1. Kenakalan
yang bersifat amoral dan asosial dan tidak diatur dalam undang-undang sehingga
tidak dapat sulit digolongkan pelanggaran hukum.
2. Kenakalan
yang bersifat melanggar hukum dengan penyelesaian dengan undang-undang dan
hukum yang berlaku sama dengan perbuatan melanggar hukum apabila dilakukan oleh
orang dewasa.[3]
Singgih D. Gunarsa memberikan
beberapa ciri pokok dari kenakalan remaja, antara lain:
1. Dalam
pengertian kenakalan harus terlihat adanya perbuatan atau tingkah laku yang
bersifat pelanggaran hukum yang berlaku dan pelanggaran nilai-nilia moral.
2. Kenakalan
tersebut mempunyai tujuan yang asusila, yakni atau perbuatan tingkah laku
tersebut bertentangan dengan nilai atau norma sosial yang ada di lingkungan
hidupnya.
3. Kenakalan
remaja dapat dilakukan oleh seorang remaja saja, atau dapat juga dilakukan
bersama-sama dalam suatu kelompok remaja.
Dari beberapa
pembahasan tentang kenakalan remaja yang dikemukakan diatas maka diambil
pengertian bahwa kenakalan remaja yang dimaksud dalam makalah ini adalah suatu tindakan atau perbuatan yang
menyimpang dan melawan tata tertib atau peraturan yang ada, baik disekolah
maupun di keluarga. Dalam hal ini remaja dapat mengganggu ketentraman sekolah,
masyarakat, bangsa dan negara dan tidak menutup kemungkinan membahayakan diri
sendiri dan juga tanggung jawab mereka di masa depan sebagai tulang punggung negara
dan penerus pembangunan nasional.
Dalam Hal ini kelompok membagi
kenakalan remaja menjadi 4 jenis yaitu:
1)
Kenakalan yang menimbulkan korban fisik
pada orang lain: perkelahian, pemerkosaan, perampokan, pembunuhan dan
lain-lain.
2)
Kenakalan yang menimbulkan korban
materi: perusakan, pencurian, pencopetan, pemerasan dan lain-lain.
3)
Kenakalan sosial yang menimbulkan korban di
pihak lain: pelacuran, penyalahgunaan obat.
4)
Kenakalan yang melawan status anak
sebagai pelajar dengan cara membolos, mengingkari status orang tua dengan cara
pergi dari rumah atau membantah perintah orang tua dan sebagainya. Pada usia
remaja perilaku-perilaku mereka memang belum melanggar hukum dalam arti yang
sesungguhnya karena yang dilanggar adalah statusstatus dalam lingkungan primer
(keluarga) dan sekunder (sekolah) yang memang belum diatur oleh hukum secara
rinci.
Defenisi
Prestasi
Menurut Poerwadaminta
dinyatakan bahwa "Prestasi adalah hasil yang dicapai. Prestasi
merupakan sesuatu yang sudah didapat
atau sesuatu yang sudah dikuasai". Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa prestasi belajar
sering dinyatakan dalam bentuk angka yang menunjukkan tingkat pemahaman
seseorang mengenai bahan pelajaran yang telah dipelajari.
Seperti yang dikemukakan oleh Nasution
menyatakan bahwa "Prestasi belajar adalah suatu
bukti keberhasilan atau kemampuan
seorang siswa dalam melalakukan kegiatan belajarnya
sesuai bobot yang dicapai.
Dalam memperoleh hasil
belajar yang baik minat juga sangat menentukan seorang siswa berhasil atau
tidak dalam belajarnya. Menurut Poerbakawatja menyatakan, "Minat adalah kesediaan
jiwa yang sifatnya aktif untuk menerima sesuatu dari luar belajar. Tiap – tiap pelajaran
harus dapat menarik minat dari murid - murid. Minat merupakan kaedah pokok dalam
didaktif.
Memilih dan menggunakan
metode yang dapat merupakan kewajiban bagi seorang guru untuk mengetahui
bagaimana cara menyusun strategi belajar mengajar yang baik sesuai dengan
materi belajar yang akan dibahasnya. Ahmadai mengatakan "Masalah mengenai
bagaimana cara yang paling baik menyajikan
materi pelajaran agar dapat diterima dengan mudah dan baik oleh siswamerupakan
ruang lingkup metodologi mengajar.
Seperti yang di kemukakan oleh Nasution
menyatakan bahwa " Prestasi belajar adalah suatu
bukti keberhasilan atau kemampuan
seorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai bobot yang dicapai.
Dalam memperoleh hasil
belajar yang baik minat juga sangat menentukan seorang siswa
berhasil belajar atau tidak dalam
belajarnya. Menurut Poerbakawatja, menyatakan, " Minat
adalah kesediaan jiwa yang sifatnya
aktif untuk menerima sesuatu dari luar belajar. Tiap-tiap
pelajaran harus dapat menarik minat dari
murid- murid. Minat merupakan kaedah pokok dalam didaktif.
Memilih dan menggunakan
metode yang tepat merupakan kewajiban bagi seorang guru untuk
mengetahui bagaiman cara menyusun
startegi belajar mengajar yang baik sesuai dengan materi belajar yang akan
dibahasnya. Ahmadi mengatakan, "Masalah mengenai bagaimana cara yang paling
baik menyajikan materi pelajaran agar dapat diterima dengan mudah dan baik oleh
siswa merupakan ruang lingkup metodologi mengajar.[4]
Faktor-faktor Pendukung Prestasi
Belajar Siswa
Faktor-faktor yang mendukung
prestasi belajar siswa yaitu oleh dua
faktor utama yaitu yang pertama; faktor dari dalam diri siswa itu sendiri dan
yang kedua; faktor yang datang dari luar diri siswa itu sendiri atau faktor
lingkungan.
Ø Faktor Intern, meliputi:
1) Faktor Biologis ( yang bersifat
jasmani)
Ø faktor Kesehatan
Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan
seseorang terganggu, selain itu juga ia akan cepat lelah, kurang bersemangat,
mudah pusing, ngantuk jika badannya lelah, kurang darah ataupun ada
gangguan-gangguan atau kelainan-kelainan fungsi alat indranya serta tubuhnya.
2) Faktor Psikologis (yang bersifat
rohani)
Sekurang-kurangnya ada tujuh faktor psikologis yang
mempengaruhi belajar siswa. Faktor-faktor itu adalah: intelegensi, perhatian,
minat, bakat, motif, kematangan dan kelelahan.
A.
Faktor
Eksternal
Selain faktor internal yang
diakibatkan dari dalam diri siswa, ada pula faktor eksternal atau faktor yang
diakibatkan dari luar diri siswa, yang dapat mempengaruhi prastasi belajar
siswa antara lain:
1. Faktor lingkungan keluarga.
Keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama
bagi siswa. Keluarga adalah termasuk di dalam salah satu faktor yang mempunyai
pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan siswa. Dari lingkungan
keluarga inilah yang pertama kali anak dikenalkan dan menerima pendidikan dan
pengajaran terutama dari ayah dan ibunya. Pengaruh keluarga bagi siswa adalah
berupa: cara orang tua mendidik anak, hubungan antara keluarga, pengertian
orang tua, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga dan latar belakang kebudayaan.
2. Faktor lingkungan sekolah
Faktor lingkungan sekolah mempunyai pengaruh terhadap
keberhasilan siswa dalam belajar karena hampir sepertiga dari kehidupan siswa
sehari-hari berada disekolah. Faktor lingkungan sekolah yang dapat menunjang
keberhasilan siswa, antara lain; cara penyampaian pelajaran, faktor antara guru
dengan siswa, faktor asal sekolah, faktor kondisi gedung, kelas harus memenuhi
syarat belajar, dan kedisiplinan yang diterapkan oleh sekolah yang
bersangkutan.
3. Faktor lingkungan masyarakat
Faktor lingkungan masyarakat disebut juga sebagai faktor
lingkungan sekitar siswa dimana ia tinggal, Faktor lingkungan masyarakat ini
juga memberikan pengaruh terhadap keberhasilan siswa.
A.
Faktor-faktor
penyebab kenakalan remaja
Perilaku ‘nakal’ remaja bisa
disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar
(eksternal).
Faktor internal:
- Krisis identitas: Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
- Kontrol diri yang lemah: Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
Faktor eksternal:
- Keluarga dan Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
- Teman sebaya yang kurang baik
- Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.[5]
B. Upaya penanganan terhadap Kenakalan
Remaja
Pada
Hakekatnya, orang tua mempunyai harapan agar anak-anak dapat bertumbuh dan
berkembang menjadi pribadi anak yang baik, tahu membedakan apa yang baik dan
yang tidak baik, tidak mudah terjerumus dalam perbuatan-perbuatan dapat
merugikan dirinya sendiri maupun merugikan orang lain. Harapan-harapan ini
kiranya akan lebih mudah terwujud apabila sejak semula, orang tua telah
menyadari akan peranan mereka sebagai orangtua yang besar pengaruhnya terhadap
perkembangan moral anak.[6]
Dengan demikian
kelompok akan memberikan penjelasan mengenai penaganan terhadap kenakalan
remaja, sebagai berikut :
1)
Orang Tua/keluarga
Dalam
pembinaan perkembangan dan pertumbuhan remaja, orang tua seharusnya memiliki
peran yang aktif dalam memotivasi dan memberikan pengajaran-pengajaran yang
baik dan benar terhadap anak. Sehingga pola asuh yang diberikan kepada anak
haruslah tepat dalam menjaga pergaulan anak dan mendidik kehidupan anak. Adapun
pola asuh yang baik diberikan kepada anak berdasarkan kesepakatan kelompok,
yaitu :
Pola Asuh yang
demokratis
Pola
asuh demokratis ini lebih menitikan kepada kebebasan pribadi anak, tetapi
dengan syarat. Artinya bahwa setiap keinginan yang akan dilakukan oleh anak,
terlebih dahulu dipertimbangkan oleh orang tua untuk dapat menyetujuinya. Dan
dalam hal ini pribadi anak dan orang tua dapat menjalin hubungan yang baik
dalam mengambil sebuah keputusan, sehingga tidak ada satu pihak pun yang
dirugikan. Jika pola asuh seperti ini yang diterapkan oleh orang tua terhadap
anak, maka akan berdampak yang baik terhadap anak. Anak akan menjadi pribadi
yang bertanggung jawab, mandiri dan bijaksana di dalam mengambil suatu
keputusan. Anak juga dapat menghargai pendapat orang yang lebih dewasa dari
dirinya, dan anak akan menjadi seorang pribadi yang taat, patu terhadap
aturan-aturan yang diberikan oleh orang tua, gereja, sekolah dan masyarakat.
2)
Sekolah
Sebagai
lembaga pendidikan, sekolah juga memiliki peranan aktif dalam menagulangi
kenakalan remaja. Terutama guru, guru merupakan orang tua kedua, Guru tidak
hanya mengajarkan bagaimana anak dapat memperoleh pengetahuan yang baik. Tetapi
juga harus mengajarkan bagaimana cara anak memiliki karakter yang baik. Dalam
hal ini guru semestinya guru dapat membina siswa atau remaja bagaimana memiliki
karakter yang baik.
3)
Gereja
Gereja
sebagai lembaga atau organisasi keagamaan yang dapat membentuk kerohanian
remaja untuk lebih baik. Gereja harus berperan aktif dalam membina remaja,
karena mereka lah yang akan menjadi penerus-penerus gereja dan masa depan
gereja. Namun ketika remaja tidak
dibentuk dan dibina dengan baik melalui gereja, maka akan timbul kecendrungan
perbuatan remaja akan melakukan hal-hal yang negatif. Tetapi jika gereja
melakukan pembinaan yang baik terhadap pertumbuhan dan perkembangan kerohanian
remaja, maka remaja akan menjadi remaja yang bertumbuh dengan baik dan sesuai
dengan pengajaran-pengajaran yang terdapat dalam alkitab. Gereja harus bisa
membawa remaja kepada Tuhan dan melakukan berbagai persekutuan untuk
pertumbuhan iman remaja.
BAB III
PENUTUP
a)
Kesimpulan
Berdasarkan
latarbelakang yang kelompok sudah utarakan bahwa kenakalan remaja yang meliputi
perilaku yang menyimpang dari
norma-norma hukum dan perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan
orang-orang di sekitarnya. Adapun faktor-faktor yang melatarbelakangi kenakaan
rejama yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berupa faktor
dari keluargayang kurang harmonis. Sedangkan faktor eksternal berupa pergaulan
bebas, pengaruh perkembangan teknologi yang berdampak negatif, Kurangnya
perhatian sekolah terhadap pertumbuhan dan perkambangan remaja, dan tidak adanya media penyalur bakat
dan hobi bagi remaja.
Untuk menanggulagi kenakalan remaja maka harus mendapat
stategi-strategi yang cocok untuk mengisi kegiatan aktifitas mereka misalnya adanya
motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya yang membantu dalam mengatasi
kenakalan remaja.
b)
Saran.
Ø Orangtua
Disarankan
kepada orang tua untuk dapat menjaga hubungan yang hangat dalam keluarga dengan
cara saling menghargai, pengertian, dan penuh kasihsayang serta tidak
bertengkar di depan anak. Serta memberi pengarahan tentang cara bergaul. Orang
tua harus bisa menjadi teman, agar anak dapat terbuka dan anak dapat menjadikan
orang tua sebagai seorang sahabat terpercaya.
Ø Pihak Sekolah
Pihak sekolah disarankan dapat membantu siswa untuk
mengenali potensi-potensi yang dimiliki siswa. Sehingga dapat meningkatkan
konsep diri siswa, serta dapat meningkat kembali prestasi yang ada pada peserta
didik karena sekolah adalah salah satu yang membantu untuk membina karakter
siswa.
[1] Singgih D.
Gunarsa dan Ny. Yulia Singgih D. Gunarsa
“Psikologi Remaja”(Jakarta, Gunung Mulia ,2009)Hal.4-5.
[2] Ibib,
hal. 67-71
[3] Ibid.
Hal. 18-22.
[4] Jurnal .Asnawati Matondang “Hubungan Kenakalan Remaja dengan Prestasi Belajar
Siswa”Volume 1. Hal 37.
[5] Di
peroleh dari” http://belajarpsikologi.com/kenakalan-remaja/
tnggal 19/3/15.
[6] Singgih D. Gunarsa & Yulia Singgih D. Gunarsa, Psikologi Perkembangan Anak & Remaja, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2011, Hal. 60.
[6] Singgih D. Gunarsa & Yulia Singgih D. Gunarsa, Psikologi Perkembangan Anak & Remaja, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2011, Hal. 60.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar