PENGERTIAN DAN HUBUNGAN ONTOLOGI,
EPISTOMOLOGI DAN AKSIOLOGI DENGAN PENDIDIKAN
A.
Pendahuluan
Belajar filsafat merupakam salah
satu bentuk latihan untuk memperoleh kemampuan berfikir serius, kemampuan ini
akan memberikan kemampuan memecahkan masalah secara serius menemukan akar
persoalan yang terdalam menemukan sebab terakhir suatu penampakan.
Jadi, filsafat membantu untuk mendalami pertanyaan
asasi manusia tentang makna realitas dan ruang lingkupnya
Sistematika filsafat secara garis
besar ada tiga pembahasan pokok atau tiga bagian yaitu; epistemologi atau teori
pengetahuan yang membahas bagaimana kita memperoleh pengetahuan, ontologi
atau teori hakikat yang membahas tentang hakikat segala sesuatu yang
melahirkan pengetahuan dan aksiologi atau teori nilai yang
membahas tentang guna pengetahuan. Mempelajari ketiga cabang tersebut sangatlah
penting dalam memahami filsafat yang begitu luas ruang lingkup dan
pembahansannya.
Ketiga teori di atas sebenarnya
sama-sama membahas tentang hakikat, hanya saja berangkat dari hal yang berbeda
dan tujuan yang beda pula. Epistemologi sebagai teori pengetahuan membahas
tentang bagaimana mendapat pengetahuan, bagaimana kita bisa tahu dan dapat
membedakan dengan yang lain. Ontologi membahas tentang apa objek yang kita
kaji, bagaimana wujudnya yang hakiki dan hubungannya dengan daya pikir.
Sedangkan aksiologi sebagai teori nilai membahas tentang pengetahuan kita akan
pengetahuan di atas, klasifikasi, tujuan dan perkembangannya.
BAB II
Pengertian
Ontologi, Epistemolgi dan Aksiologi serta
Hubungannya Antara Ketiganya
A.
Ontologi
1.
Pengertian Ontologi
Istilah ontologi berasal dari bahasa
Yunani, yang terdiri dari dua kata, yaitu ta onta berarti “yang berada”,
dan logi berarti ilmu pengetahuan atau ajaran. Maka ontologi adalah ilmu
pengetahuan atau ajaran tentang keberadaan.[1]
Ontologi menyelidiki sifat dasar
dari apa yang nyata secara fundamental dan cara yang berbeda dimana entitas
(wujud) dari kategori-kategori yang logis yang berlainan (objek-objek
fisik, hal universal, abstraksi) dapat dikatakan ada dalam rangka tradisional.
ontologi dianggap sebagai teori mengenai prinsip-prinsip umum dari hal ada,
sedangkan dalam hal pemakaianya akhir-akhir ini ontologi dipandang sebagai
teori mengenai apa yang ada.
Ontologi sering diindetikan dengan
metafisika yang juga disebut proto-filsafia atau filsafat yang pertama, atau
filsafat ketuhanan yang bahasanya adalah hakikat sesuatu, keesaan, persekutuan,
sebab akibat, realita, atau Tuhan dengan segala sifatnya.[2]
Dengan demikian, metafisika umum
atau ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan prinsip paling dasar
atau dalam dari segala sesuatu yang ada.
Para ahli memberikan pendapatnya
tentang realita itu sendiri, diantaranya Bramel. Ia mengatakan bahwa ontologi
ialah interpretasi tentang suatu realita dapat bervariasi, misalnya apakah
bentuk dari suatu meja, pasti setiap orang berbeda-beda pendapat mengenai
bentuknya, tetapi jika ditanyakan bahanya pastilah meja itu substansi dengan
kualitas materi, inilah yang dimaksud dari setiap orang bahwa suatu meja itu
suatu realita yang kongkrit. Plato mengatakan jika berada di dua dunia yang
kita lihat dan kita hayati dengan kelima panca indra kita nampaknya cukup nyata
atau real.
Adapun mengenai objek kajian
ontologi ialah yang ada, yaitu ada individu, ada umum, ada terbatas, ada tidak
terbatas, ada universal, ada mutlak, termasuk kosmologi dan metafisika dan ada
sesudah kematian maupun sumber segala yang ada. Objek formal ontologi adalah
hakikat seluruh realitas, bagi pendekatan kualitif, realitas tranpil dalam
kuantitas atau jumlah, telaahnya menjadi telaah monism, paralerisme atau
plurarisme.
2.
Hubungan Ontologi dengan Filsafat Pendidikan
Telah kita ketahui bersama
bahwasanya ontologi ialah suatu kajian keilmuan yang berpusat pada pembahasan
tentang hakikat. Ketika ontologi dikaitkan dengan filsafat pendidikan, maka
akan munculah suatu hubungan mengenai ontologi filsafat pendidikan.
Pendidikan adalah suatu kegiatan
yang sadar akan tujuan. Disini bermakna bahwa adanya pendidikan bermaksud untuk
mencapai tujuan, maka dengan ini tujuan menjadi hal penting dalam
penyelengaraan pendidikan. Secara umum dapat dikatakan bahwa pendidikan dapat
membawa anak menuju kepada kedewasaan, dewasa baik dari segi jasmani maupun
rohani.
Dengan mengetahui makna pendidikan maka makna
Ontologi dalam pendidikan itu sendiri merupakan analisis tentang objek materi
dari ilmu pengetahuan. Berisi mengenai hal-hal yang bersifat empiris serta
mempelajari mengenai apa yang ingin diketahui manusia dan objek apa yang diteliti
ilmu. Dasar ontologi pendidikan adalah objek materi pendidikan dimana sisi yang
mengatur seluruh kegiatan kependidikan. Jadi hubungan ontologi dengan
pendidikan menempati posisi landasan yang terdasar dari fondasi ilmu dimana
disitulah teletak undang-undang dasarnya dunia ilmu.
Di atas telah disebutkan bahwa
Pendidikan ditinjau dari sisi ontologi berarti persoalan tentang hakikat
keberadaan pendidikan. Fakta menunjukkan bahwa pendidikan selalu berada dalam
hubungannya dengan eksistensi kehidupan manusia. Tanpa pendidikan, manusia
tidak mungkin bisa menjalankan tugas dan kewajibannya di dalam kehidupan,
pendidikan secara khusus difungsikan untuk menumbuh kembangkan segala potensi
kodrat (bawaan) yang ada dalam diri manusia. Oleh sebab itu, dapat dipahami bahwa
ontologi pendidikan berarti pendidikan dalam hubungannya dengan asal-mula,
eksistensi, dan tujuan kehidupan manusia. Tanpa manusia, pendidikan tak pernah
ada.
3.
Penerapan Ontologi Filsafat Pendidikan Menurut
Beberapa Aliran
a)
Pandangan Ontologi Progressivisme
Adanya kehidupan realita yang amat
luas tidak terbatas, sebab kenyataan alam semesta adalah kenyataan dalam
kehidupan manusia. Pengalaman adalah kunci pengertian manusia atau segala
sesuatu,pengalaman manusia tentang penderitaan, kesedihan, kegembiraan,
keindahan dan lain-lain adalah realita manusia hidup sampai mati. Pengalaman
adalah suatu sumber evolusi maju setapak demi setapak mulai dari yang
mudah-mudah menerobos kepada yang sulit-sulit (Proses perkembangan yang lama).
Pengalaman adalah perjuangan sebab hidup adalah tindakan dan
perubahan-perubahan. Manusia akan tetap hidup berkembang jika ia mampu
mengatasi perjuangan , perubahan dan berani bertindak.
Aplikasi pandangan ini terhadap
pendidikan adalah pada saat proses pembelajaran agar anak dapat memahami apa
yang dipelajari, mereka harus mengalami secara langsung. Untuk mendapatkan
pengalaman secara langsung anak dapat diajak untuk melakukan berbagai kegiatan
misalnya, eksperimen, pengamatan, diskusi kelompok, observasi, wawancara,
bermain peran dan lain-lain.
b)
Pandangan Ontologi Essensialisme
Essensialisme adalah pendiddikan
yang didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal
peradaban manusia. Essensialisme memandang bahwa pendidikan berpijak pada
nilai-nilai yang memilikki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kesetabilan
dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas.
Sifat yang menonjol dari ontologi
esensialisme adalah suatu konsep bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada
cela, yang mengatur isinya dengan tiada ada pula. Pendapat ini berarti bahwa
bagaimana bentuk, sifat, kehendak dan cita-cita manusia haruslah disesuaikan
dengan tata alam yang ada. Tujuan umum aliran esensialisme adalah membentuk
pribadi bahagia di dunia dan akhirat. Isi pendidikannya mencakup ilmu
pengetahuan, kesenian dan segala hal yang mampu menggerakkan kehendak manusia.
Kurikulum sekolah bagi esenisalisme semacam miniatur dunia yang bisa dijadikan
sebagai ukuran kenyataan, kebenaran dan keagungan.
Aplikasinya dalam setiap kegiatan
belajar mengajar guru diselipkan nilai-nilai keagamaan antara lain saat sebelum
dan sesudah pelajaran berlangsung dilakukan berdo’a bersama menurut agama dan
kepercayaan masing-masing.
c)
Pandangan Ontologi Perennialisme
Perennialisme memandang pendidikan
sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan sekarang. Perennialisme
memberikan sumbangan yang berpengaruh baik teori maupun praktek bagi kebudayaan
dan pendidikan jaman sekarang.
Di zaman kehidupan modern ini banyak
menimbulkan krisis diberbagai bidang kehidupan manusia, terutama dalam bidang
pendidikan. Untuk mengembalikan keadaan krisis ini, maka perenialisme
memberikan jalan keluar yaitu berupa kembali kepada kebudayaan masa lampau yang
dianggap cukup ideal dan teruji ketangguhannya. Untuk itulah pendidikan harus
lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya kepada kebudayaan ideal yang telah
teruji dan tangguh.
Ontologi perennialisme menyatakan
segala yang ada di alam ini terdiri dari materi dan bentuk atau badan dan jiwa
yang disebut dengan substansi, bila dihubungkan dengan manusia maka manusia itu
adalah potensialitas yang didalam hidupnya tidak jarang dikuasai oleh sifat
eksistensi keduniaan tidak jarang pula dimilikkinya akal, perasaan dan
kemauannya semua ini dapat diatasi. Maka dengan suasana ini manusia dapat
bergerak menuju tujuan (teologis) dalam hal ini untuk mendekatkan diri pada
supernatural (tuhan) yang merupakan pencipta manusia itu sendiri dan merupakan
tujuan akhir.
d)
Pandangan Ontologi Rekontruksionisme
Dengan ontologi, dapat diterangkan bagaimana
hakikat dari segala sesuatu. Aliran rekonstruksionalisme memandang bahwa
realita itu bersifat universal, yang mana realita itu ada dimana dan sama di
setiap tempat. Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan
dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. Karenanya pembinaan
kembali daya intelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia
melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar pula demi
generasi sekarang dan generasi yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru
dalam pengawasan umat manusia.
Kaitan aliran ini dengan pendidikan
adalah pendidikan itu tidak diselenggrakan secara terpusat melainkan secara
universal. Mengingat situasi dan kondisi disetiap tempat berbeda-beda. Di sini
setiap sekolah berhak menentukan indicator sesuai dengan situasi, lingkungan,
serta kebutuhan peserta didik
Kewajiban pendidik melalui latar
belakang ontologis ialah membina daya pikir yang tinggi dan kritis. Implikasi
pandangn ontologi di dalam pendiddikan ialah bahwa pengalaman manusia yang
harus memperkaya kepribadian bukanlah hanya alam raya dan isinya dalam arti
sebagai pengalaman sehari-hari, melainkan sesuatu yang tak terbatas.
B.
Epistemologi
1.
Pengertian Epistemologi
Dalam belajar filsafat, kita akan
menemui banyak cabang kajian yang akan
membawa kita pada fakta dan betapa kaya dan beragam kajian filsafat itu.
Sebenarnya yang terpenting adalah
bagaimana kita semua memahami apa saja
yan menjadi kajan filsafat, cabang-cabang filsafat.[3]
Albuerey Castel membagi masalah filsafat menjadi enam bagian yaitu, teologis,
metafisika, epistemologi, etika, plitik dan sejarah.[4]
Epistemologi
adalah cabang filsafat yang mempelajari benar atau tidaknya suatu pengetahuan.
Sebagai sub sistem filsafat, epistemologi mempunyai banyak sekali pemaknaan
atau pengertian yang kadang sulit untuk dipahami. Dalam memberikan pemaknaan terhadap epistemologi, para ahli memiliki
sudut pandang yang berbeda, sehingga memberikan pemaknaan yang berbeda ketika
mngungkapkannya.
Akan tetapi, untuk lebih mudah dalam memahami
pengertian epistemologi, maka perlu diketahui pengertian dasarnya terlebih
dahulu. Epistemologi berdasarkan akar katanya episteme (pengetahuan) dan logos
(ilmu yang sistematis, teori).[5]
Secara
terminologi, epistemologi adalah teori atau ilmu pengetahuan tentang metode dan
dasar-dasar pengetahuan, khususnya yang berhubungan dengan batas-batas
pengetahuan dan validitas atau sah berlakunya pengetahuan itu.
Beberapa
ahli yang mencoba mengungkapkan definisi daripada epistemologi adalah P.
Hardono Hadi. Menurut beliau epistemologi adalah cabang filsafat yang
mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan,
pengandaian-pengandaian dan dasarnya, serta pertanggungjawaban atas pernyataan
mengenai pengetahuan yang dimiliki.
Tokoh lain
yang mencoba mendefinisikan epistemologi adalah D.W Hamlyin, ia mengatakan
bahwa epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, dasar dan
pengandaian – pengandaian serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang
memiliki pengetahuan.[6]
Dagobert
D. Runes. Seperti yang di tulis Mujamil Qomar, beliau memaparkan bahwa
epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas, sumber, struktur,
metode-metode, dan validitas pengetahuan.
2.
Ruang Lingkup Epistemologi
Dengan memperhatikan definisi
epistemologi, bisa dikatakan bahwa tema dan pokok pengkajian epistemologi ialah
ilmu, makrifat dan pengetahuan.Dalam hal ini, dua poin penting akan dijelaskan:
a)
Cakupan pokok bahasan, yakni apakah subyek
epistemologi adalah ilmu secara umum atau ilmu dalam pengertian khusus seperti
ilmu hushûlî.Ilmu itu sendiri memiliki istilah yang berbeda dan setiap istilah
menunjukkan batasan dari ilmu itu. Istilah-istilah ilmu tersebut adalah sebagai
berikut:
1)
Makna leksikal ilmu adalah sama dengan pengideraan
secara umum dan mencakup segala hal yang hakiki, sains, teknologi,
keterampilan,kemahiran dan juga meliputi ilmu-ilmu seperti hudhûrî,
hushûlî,ilmu Tuhan, ilmu para malaikat dan ilmu manusia.
2)
Ilmu adalah kehadiran (hudhûrî) dan segala bentuk
penyingkapan. Istilah ini digunakan dalam filsafat Islam. Makna ini mencakup
ilmu hushûlî dan ilmu hudhûrî.
3)
Ilmu yang hanya dimaknakan sebagai ilmu hushûlî dimana
berhubungan dengan ilmu logika (mantik).
4)
Ilmu adalah pembenaran (at-tashdiq) dan hukum yang
meliputi kebenaran yang diyakini dan belum diyakini.
5)
Ilmu ialah kebenaran dan keyakinan yang bersesuaian
dengan kenyataan dan realitas eksternal.
6)
Ilmu ialah kumpulan proposisi-proposisi universal yang
saling bersesuaian dimana tidak berhubungan dengan masalah-masalah sejarah dan
geografi.
7)
Ilmu ialah kumpulan proposisi-proposisi universal yang
bersifat empirik.
b)
Sudut pembahasan
Yakni apabila subyek epistemologi
adalah ilmu dan makrifat, maka dari sudut mana subyek ini dibahas,karena ilmu
dan makrifat juga dikaji dalam ontologi, logika, dan psikologi.Sudut-sudut yang
berbeda bisa menjadi pokok bahasan dalam ilmu. Terkadang yang menjadi titik
tekan adalah dari sisi hakikat keberadaan ilmu. Sisi ini menjadi salah satu
pembahasan dibidang ontologi dan filsafat. Sisi pengungkapan dan kesesuian ilmu
dengan realitas eksternal juga menjadi pokok kajian epistemologi. Sementara
aspek penyingkapan ilmu baru dengan perantaraan ilmu-ilmu sebelumnya dan faktor
riil yang menjadi penyebab hadirnya pengindraan adalah dibahas dalam ilmu
logika. Dan ilmu psikologi mengkaji subyek ilmu dari aspek pengaruh umur
manusia terhadap tingkatan dan pencapaian suatu ilmu. Sudut pandang pembahasan
akan sangat berpengaruh dalam pemahaman mendalam tentang perbedaan-perbedaan
ilmu.
Dalam epistemologi akan dikaji
kesesuaian dan probabilitas pengetahuan, pembagian dan observasi ilmu, dan
batasan-batasan pengetahuan.Dan dari sisi ini, ilmu hushûlî dan ilmu hudhûrî
juga akan menjadi pokok-pokok pembahasannya. Dengan demikian, ilmu yang
diartikan sebagai keumuman penyingkapan dan pengindraan adalah bisa dijadikan
sebagai subyek dalam epistemologi[7].
3.
Aliran-aliran Epistemologi
Dalam teori epistemologi terdapat
beberapa aliran. Aliran-aliran tersebut mencoba menjawab pertanyaan bagaimana
manusia memperoleh pengetahuan.
Pertama, golongan
yang mengemukakan asal atau sumber pengetahuan yaitu aliran:
a)
Rasionalisme, yaitu aliran yang mengemukakan, bahwa
sumber pengetahuan manusia ialah pikiran, rasio dan jiwa.
b)
Empirisme, yaitu aliran yang mengatakan bahwa
pengetahuan manusia berasal dari pengalaman manusia itu sendiri, melalui dunia
luar yang ditangkap oleh panca inderanya.
c)
Kritisme (transendentalisme), yaitu aliran yang
berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu berasal dari dunia luar dan dari jiwa
atau pikiran manusia sendiri.
Kedua, golongan
yang mengemukakan hakikat pengetahuan manusia inklusif di dalamnya
aliran-aliran:
a)
Realisme, yaitu aliran yang berpendirian bahwa
pengetahuan manusia adalah gambaran yang baik dan tepat tentang kebenaran.
Dalam pengetahuan yang baik tergambar kebenaran seperti sesungguhnya.
b)
Idealisme, yaitu aliran yang berpendapat bahwa
pengetahuan hanyalah kejadian dalam jiwa manusia, sedangkan kanyataan yang
diketahui manusia semuanya terletak di luar dirinya.
C.
Aksiologi
1.
Pengertian
Aksiologi
Aksiologi membahas tentang masalah
nilai. Istilah aksiologi berasal dari kata axio dan logos, axios artinya nilai
atau sesuatu yang berharga, dan logos artinya akal, teori, axiologi artinya
teori nilai, penyelidikan mengenai kodrat, kriteria dan status metafisik dari
nilai[8].
Aksiologi sebagai cabang filsafat
ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai, pada umumnya ditinjau
dari sudut pandangan kefilsafatan.
Nilai Intrinsik, contohnya pisau
dikatakan baik karena mengandung kualitas-kualitas pengirisan didalam dirinya,
sedangkan nilai instrumentalnya ialah pisau yang baik adalah pisau yang dapat
digunakan untuk mengiris[9],
jadi dapat menyimpulkan bahwa nilai Instrinsik ialah nilai yang yang dikandung
pisau itu sendiri atau sesuatu itu sendiri, sedangkan Nilai Instrumental ialah
Nilai sesuatu yang bermanfaat atau dapat dikatakan Niai guna.
2.
Kegunaan
Aksiologi Terhadap Tujuan Ilmu Pengetahuan
Berkenaan dengan nilai guna ilmu,
baik itu ilmu umum maupun ilmu agama, tak dapat dibantah lagi bahwa kedua ilmu
itu sangat bermanfaat bagi seluruh umat manusia, dengan ilmu sesorang dapat
mengubah wajah dunia.
Nilai kegunaan ilmu, untuk
mengetahui kegunaan filsafat ilmu atau untuk apa filsafat ilmu itu digunakan,
kita dapat memulainya dengan melihat filsafat sebagai tiga hal, yaitu:
a)
Filsafat
sebagai kumpulan teori digunakan memahami dan mereaksi dunia pemikiran.
Jika seseorang hendak ikut membentuk
dunia atau ikut mendukung suatu ide yang membentuk suatu dunia, atau hendak
menentang suatu sistem kebudayaan atau sistem ekonomi, atau sistem politik,
maka sebaiknya mempelajari teori-teori filsafatnya. Inilah kegunaan mempelajari teori-teori filsafat ilmu.
b)
Filsafat
sebagai pandangan hidup.
Filsafat dalam posisi yang kedua ini semua teori ajarannya diterima
kebenaranya dan dilaksanakan dalam kehidupan. Filsafat ilmu sebagai pandangan
hidup gunanya ialah untuk petunjuk dalam menjalani kehidupan.
c)
Filsafat sebagai metodologi dalam memecahkan
masalah.
Dalam hidup ini kita menghadapi banyak masalah. Bila ada batui didepan
pintu, setiap keluar dari pintu itu kaki kita tersandung, maka batu itu
masalah. Kehidupan akan dijalani lebih enak bila masalah masalah itu dapat
diselesaikan. Ada banyak cara menyelesaikan masalah, mulai dari cara yang
sederhana sampai yang paling rumit. Bila cara yang digunakan amat sederhana
maka biasanya masalah tidak terselesaikan secara tuntas.penyelesaian yang
detail itu biasanya dapat mengungkap semua masalah yang berkembang dalam
kehidupan manusia.
D.
Hubungan
Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi dengan Pendidikan
1.
Ontologi
Ontologi merupakan analisis tentang
objek materi dari ilmu pengetahuan.Berisi mengenai hal-hal yang bersifat
empiris serta mempelajari mengenai apa yang ingin diketahui manusia dan objek
apa yang diteliti ilmu. Dasar ontologi pendidikan adalah objek materi
pendidikan ialah sisi yang mengatur seluruh kegiatan kependidikan.
Jadi hubungan ontologi dengan
pendidikan menempati posisi landasan yang terdasar dari fondasi ilmu dimana
disitulah teletak undang-undang dasarnya dunia ilmu.
2.
Epistemologi
Epistemologi adalah pengetahuan
sistematik mengenai pengetahuan. Ia merupakan salah satu cabang filsafat yang
membahas tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula
pengetahuan, metode atau caraa memperoleh pengetahuan, validitas dan kebenaran
pengetahuan. Aspek epistemologi adalah kebenaran fakta atau kenyataan dari
sudut pandang mengapa dan bagaimana fakta itu benar yang dapat diverifikasi
atau dibuktikan kebenarannya.
Jadi hubungan epistemologi dengan
pendidikan adalah untuk mengembangkan ilmu secara produktif dan bertanggung
jawab serta memberikan suatu gambaran-gambaran umum mengenai kebenaran yang
diajarkan dalam proses pendidikan.
3.
Aksiologi
Aksiologi mempelajari mengenai
manfaat apa yang diperoleh dari ilmu pengetahuan,menyelidiki hakikat
nilai,serta berisi mengenai etika dan estetika.Penerapan aksiologi dalam
pendidikan misalnya saja adalah dengan adanya mata pelajaran ilmu sosial dan
kewarganegaraan yang mengajarkan bagaimanakah etika atau sikap yang baik
itu,selain itu adalah mata pelajaran kesenian yang mengajarkan mengenai
estetika atau keindahan dari sebuah karya manusia.
Dasar Aksiologis Pendidikan adalah
Kemanfaatan teori pendidikan tidak hanya perlu sebagai ilmu yang otonom tetapi
juga diperlukan untuk memberikan dasar yang sebaik-baiknya bagi pendidikan
sebagai proses pembudayaan manusia secara beradab.
BAB
III
Kesimpulan
Istilah ontologi berasal dari bahasa
Yunani, yang terdiri dari dua kata, yaitu ta onta berarti “yang berada”,
dan logi berarti ilmu pengetahuan atau ajaran. Maka ontologi adalah ilmu
pengetahuan atau ajaran tentang keberadaan, term ontologi pertama kali
diperkenalkan oleh Rudolf.
Menurut
etimologi, epistemologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu episteme (pengetahuan) dan logos
(ilmu yang sistematis, teori). Secara terminologi, epistemologi adalah
teori atau ilmu pengetahuan tentang metode dan dasar-dasar pengetahuan,
khususnya yang berhubungan dengan batas-batas pengetahuan dan validitas atau
sah berlakunya pengetahuan itu.
Aksiologi membahas tentang masalah
nilai. Istilah aksiologi berasal dari kata axio dan logos, axios artinya nilai
atau sesuatu yang berharga, dan logos artinya akal, teori, axiologi artinya
teori nilai, penyelidikan mengenai kodrat, kriteria dan status metafisik dari
nilai.
DAFTAR
PUSTAKA
Idi, Jalaluddin Abdullah. 1997. Filsafat Pendidikan.
Jakarta: Gaya Media Pratama.
Mustansyir, Rizal dan Munir, Misnal. 2001. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Shamad, Abd dkk. 2012. Filsafat: Ontologi,
Epistemologi dan Aksiologi,
di akses dari http://philosopherscommunity.blogspot.com pada tanggal 18 Oktober 2014 pukul 13:15
WibSurajiyo.
2005. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara.
Soyomukti, Nuraini. 2011. Pengantar Filsafat Umum. Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media.
[3] Nuraini Soyomukti,
Pengantar Filsafat Umum, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hlm. 111
[4] Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu, (Jakarta, PT Rineka Cipta: 2010), hlm. 26
[5] Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan, (Bandung: Refika
Aditama, 2011), hlm. 78
[6] Ibid.,
[7] Abd
Shamad dkk, Filsafat: Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi, di akses dari http://philosopherscommunity.blogspot.com/2012/05/filsafat-ontologi-epistemologi-dan.ht
ml pada tanggal 18 Oktober
2014 pukul 13:15 Wib